Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?
Hari ini, subhanallah sekali. Tadi siang, pas ketemu Pak Ari yang berencana meminjamkan pada saya buku On and Off the Page : Mapping Place in Text and Culture (buku yang editornya adalah Pak Ari sendiri dan temannya M.B. Hackler), saya tenggelam dalam percakapan panjang ala seorang bapak dan anak perempuannya yang dungu (okay, saya berlebihan di sini, tapi apapun itu, saya benar-benar menikmati percakapan tadi siang).
Saya : Bapak, kenapa nggak milih ngajar di sana aja (Lafayette, Louisiana, Amerika Serikat)? kan udah sempat jadi dosen di sana juga.
Pak Ari : Because you are here. Karena kaliannya juga di sini kan.
Saya : umm… *pasang muka nggak ngerti*
Pak Ari : Listen, if I weren’t here, I wont see the things like I see the things now.
Saya : *pas udah dikasih bukunya* Pak, ini yakin nih, saya bakal ngerti baca buku kayak gini? Judulnya aja saya nggak paham.
Pak Ari : Yah, masa gini aja nggak ngerti….kamu mau lanjutin S2 kan?
Saya : Iya pak, cuma kata ibu mah saya mesti cari beasiswa, ibu nggak mau biayain.
Pak Ari : Lah iya, beasiswa atuh, kenapa mesti minta orang tua lagi.
Saya : Tapi susah pak. Banyak saingannya, pada pinter. Lah saya? it’s kind of difficult.
Pak Ari : Kata siapa? pikiran kamu aja itu.
Saya : Bapak dulu beasiswa dari Unpad?
Pak Ari : Nggak, dari Fulbright. Tahu nggak saya waktu itu gimana? Kasih CV, transkip nilai, bikin CD soal diri saya, wawancara, terus udah deh. Kuncinya mah cuma satu, ‘Tulus’.
Saya : Apa pak? Tulus?
Pak Ari : Lah iya. Apapun yang kamu kerjakan ya harus Tulus, dari hati. Keliatan kok orang yang ngelakuin apa-apa dari hati atau nggak. Two things, Na - honest and good will, then everything will be fine.
Saya : *ngangguk-ngangguk*
Pak Ari : Apapun yang sedang dilakukan, jadilah orang yang tulus, yang jujur, yang fokus akan niat baik, ya nanti hasilnya akan baik juga. Toh pun misal hasil akhirnya nggak baik, ya nggak masalah toh? nggak rugi juga kan? jadi kenapa harus nggak tulus dan memulai sesuatu dengan niat yang baik?
Saya : Iya pak, banyak yang lupa sama hal-hal kayak gitu, termasuk saya.
Pak Ari : Dan malah mereka semua bilang saya yang nggak religius, kan? Saya loh orang yang meragukan Tuhan, tapi saya bisa percaya kalau apa-apa yang dari hati itu pasti berjalan baik. Nah, kalian-kalian yang percaya Tuhan, malah nggak bisa ngeliat hal itu.
Saya : *ketawa pelan* Iya, pak. Duh.
Pak Ari : Awalnya Conference Crossing 2012 yang saya buat ini diragukan dari pihak jurusan, karena faktor biaya dan karena ini acara pioner juga. Speaker yang diundang kan butuh dibayar dan lain sebagainya. Cuma pas kemarin saya menghubungi teman-teman kuliah dan teman-teman kantor saya pas saya di Lafayette, mereka nggak bermasalah dan mau berpartisipasi. See? karena niatnya baik, maka jalannya dipermudah.
Saya : Iya, pak. Makasih banyak ya, pak.
Pak Ari : Iya, itu bukunya jangan lupa difotokopi dan dibaca.
Semua nggak selesai disitu. Sorenya, saat ini, saat saya sedang duduk di depan laptop, mengecek nama-nama pembimbing skripsi, saya mendapati keberkahan Tuhan yang lainnya. Pak Ari dan Pak Taufiq adalah dosen pembimbing saya. Saya nggak tahu saya mau apa lagi. Tuhan sudah kasih yang terbaik, kedepannya tinggal bagaimana saya mensyukuri apa yang sudah diberikan, tinggal bagaimana saya menjalani proses melahirkan skripsi ini. Iya, harus tulus, harus dari hati ngerjainnya. Ditambah kata-kata mejik mas Sakty : harus fokus juga, then everything will be fine.
Pas chat YM tadi dengan kak Nisa, saya bilang gini : Kalau Tuhan itu bisa dipegang, bisa disentuh, saya benar-benar mau peluk dan cium Dia sebanyak-banyaknya. Dia baik sekali, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, Ar-Rahman dan Ar-Rahim.
Saya jadi inget buku yang semalem saya baca pas sebelum tidur, buku itu mengutip kata-kata Mick Jagger yang ‘You cant always get what you want, but if you try, sometimes you just might find what you need’ - dan dari sekian banyak permainan yang takdir lemparkan pada kita, rasanya cukup bijak untuk bilang kalau Tuhan tidak pernah lupa menyisipkan apa yang kita butuhkan diakhirnya.
Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT. Keberkahan yang sama besarnya juga saya harapkan dapat dirasakan oleh bapak dan ibu, nurul dan cholid, Mas Sakty dan keluarganya, Grace, Geni, Dina, Kiki, Ica, Aa, Lusy, Ayu, juga orang-orang baik di sekitar saya - seperti Pak Ari, Bu Ari, Pak Rasus, Pak Taufiq, dan malaikat-malaikat Tuhan yang tidak terlihat tapi selalu menyertai saya.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?”